DIES NATALIS KE-62 UIN JAKARTA: PUSAT MODERASI BERAGAMA DAN BEYOND IMAGINATION
Acara puncak peringatan Dies Natalis ke-62 ADIA/IAIN/UIN Syarif Hidayatullah digelar pada hari Senin, 17 Juni 2019 di Auditorium Prof. Harun Nasution. Acara ini dikemas dalam bentuk Sidang Senat Terbuka dengan mengangkat tema "Strategi Mainstreaning Moderasi Beragama di PTKIN". Bertindak sebagai pembicara adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., Rektor ke-10.
Sidang Senat Terbuka dipimpin oleh Ketua Senat Prof. Dr. Abuddin Nata, MA. Turut hadir dalam acara ini Rektor dan para Wakil Rektor, para Guru Besar, Dekan/Direktur, dan sivitas akademika UIN Jakarta. Diantara tamu undangan yang hadir adalah sastrawan Taufik Ismail beserta istri, perwakilan dari Kementerian Agama. Kedutaan Saudi Arabia, BRI, Bank Mandiri dan beberapa tamu undangan lainnya.
Menurut Amany Lubis Rektor UIN Jakarta prestasi yang kita saksikan seperti sekarang ini merupakan hasil kerja keras dan perjuangan para pendahulu yang wajib disyukuri.
“Prestasi yang telah kita capai selama 62 tahun, sejak ADIA (1957) , IAIN (1960), dan UIN (2002), harus kita syukuri dan tidak boleh membuat kita lalai atau terlena. Kita harus tetap berkreasi dan berinovasi. Tidak boleh berhenti mengukir prestasi”, ucapnya.
Tema moderasi beragama, tambah Amany, telah menjadi kebijakan Kementerian Agama. UIN Jakarta sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), memiliki tanggungjawab untuk menerjemahkan kebijakan tersebut dalam bentuk kebijakan strategis dan program yang operasional. Oleh karena itu, tema Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-62 tahun ini adalah Strategi Mainstreaming Moderasi Beragama di PTKIN.
Lebih lanjut Amany mengatakan, seiring dengan Milad ke-62 UIN Jakarta, tantangan yang PTKIN dihadapi semakin kompleks. Kita perlu menyatukan niat, tekat, dan langkah dalam mengdapi tantangan tersebut. Selama empat tahun ke depan (2019-2023), UIN Jakarta telah menetapkan beberapa langkah strategis untuk menjadikan institusi ini sebagai pusat moderasi beragama.
“Moderasi beragama dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan Islam wasatiyah atau Islam rahmatan lil alamin dengan tujuan untuk mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis, santun, dan damai di tengah keragaman masyarakat”, ucap Rektor ke-13 tersebut seraya menambahkan perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi harus tetap santun.
Menurut Amany Islam memiliki kearifan yang perlu kita hidupkan kembali dengan baik. Sebagai ummat yang beragama kita harus besikap santun dalam menjaga keharmonisan dan kerukunan beragama. Tidak oleh terpengaruh oleh situasi politik dan sosial yang ada. Prinsip inilah yang harus kita jaga dalam rangka mewujudkan UIN Jakarta menjadi pusat peradaban dunia melalui konsep dan implementasi moderasi beragama.
Pada kesempatan tersebut Rektor UIN juga menyampaikan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan. Pertama, peningkatan tata kelola dan manajemen kelembagaan UIN Jakarta dengan menerapkan prinsip good governance. Kedua, mengintegrasikan sistem pengembangan sumber daya manusia melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama internasional. Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dengan fokus pada peningkatan jumlah doctor dan guru besar. Keempat, peningkatan infrastruktur, khususnya sumber belajar dan buku-buku di perpustakaan yang menopang moderasi beragama. Kelima, menjadikan UIN Jakarta sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), yaitu perguruan tinggi negeri yang yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom.
Sementara itu Azyumardi Azra mengatakan apa yang sudah dicapai UIN Jakarta saat ini diluar imijinasi kita semua. “It is beyond our imagination. Dulu fasilitas sangat terbatas. Luas kampus masih beberapa hektar saja. Bahkan kampus IAIN Ciputat seperti pabrik kaos. Kalau malam seperti kuburan. Namun sekarang sudah ada lima kampus. Jumlah guru besar dan doctor sangat banyak. Demikian juga jumlah mahasiswanya. Kita tidak pernah membayangkan UIN Jakarta akan memiliki Fakultas Kedokteran seperti sekarang ini”, Rektor UIN Jakarta ke-10 tersebut.
Acara puncak Dies Natalis ke-62 tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan tiga buah puisi oleh Taufik Ismail. Puisi pertama berjudul Sajadah Panjang dibacakan dalam tiga bahasa secara berkolaborasi, yaitu bahasa Indonesia oleh Taufik Ismail, Bahasa Arab oleh Amany LUbis, dan bahasa Turki oleh salah satu tamu undangan.
Melalui puisinya, Taufik Ismail mengajak kita untuk selalu bekerja keras namun tetap bersyukur dengan tunduk, rukuk, sujud kepada Allah. Pesan lainnya, melalui puisi kedua dan ketiga, adalah tentang pentingnya mewujudkan keikhlasan, kedamaian, kejujuran, kesederhanaan, dan tanggungjawab di zaman sekarang. (BS)
