FPsi UIN Jakarta Gelar Program Psychological First Aid untuk Korban Banjir di Bekasi
Bekasi, 17 Maret 2025 — Banjir yang melanda wilayah Bekasi baru-baru ini tidak hanya menyisakan kerugian material, tetapi juga luka psikologis yang mendalam bagi para korban. Merespons hal tersebut, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar program Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap pemulihan mental masyarakat terdampak.
Program kemanusiaan ini diinisiasi oleh Lembaga Kajian dan Pengabdian Masyarakat (LKPM) FPsi UIN Jakarta, berkolaborasi dengan dua dosen penggerak yaitu Dr. Ikhwan Lutfi, M.Psi., dan Drs. Akhmad Baidun, M.Si, serta didukung penuh oleh Mohammad Avicenna, Ph.D,.Psi., yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Dies Natalis ke-30 Fakultas Psikologi UIN Jakarta.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam masa krisis. Psychological First Aid ini bertujuan untuk membantu korban banjir mengelola trauma awal, kecemasan, dan tekanan emosional pasca-bencana,” ujar Ikhwan Lutfi, M.Psi di sela kegiatan.
Program ini melibatkan mahasiswa psikologi sebagai relawan pendamping, dengan pendekatan yang hangat dan empatik melalui aktivitas seperti konseling singkat, terapi bermain untuk anak-anak, serta edukasi mengenai cara menghadapi stres pasca-bencana bagi keluarga terdampak.
“Intervensi psikologis di tahap awal sangat penting untuk mencegah gangguan psikologis yang lebih berat. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat bisa kembali bangkit dengan semangat dan ketahanan mental yang lebih kuat,” jelas Drs. Baidun.
Antusiasme dan sambutan hangat dari masyarakat menjadi bukti bahwa dukungan psikologis sangat dibutuhkan pasca-bencana. Para korban, terutama anak-anak dan lansia, mengaku merasa lebih tenang dan terbantu setelah mengikuti sesi-sesi PFA.
Dengan semangat kolaborasi dan nilai kemanusiaan yang tinggi, Fakultas Psikologi UIN Jakarta terus menunjukkan komitmennya untuk hadir dan berdampak nyata di tengah masyarakat—bukan hanya dalam ruang kelas, tapi juga dalam ruang-ruang kehidupan yang membutuhkan harapan.