HAHAL BI HALAL FAKULTAS PSIKOLOGI, PROF KOMARUDDIN HIDAYAT: New Normal Perlu Disikapi Secara Inklusif dan Subtantif
HAHAL BI HALAL FAKULTAS PSIKOLOGI, PROF KOMARUDDIN HIDAYAT: New Normal Perlu Disikapi Secara Inklusif dan Subtantif
Memasuki hari kelima di bulan Syawal 1441 H, Fakultas Psikologi UIN Jakarta menyelenggarakan acara halal bi halal virtual, pada hari Kamis, 28 Mei 2020. Meskipun secara virtual, acara ini berjalan dengan lancar dan sukses. Penuh kebersamaan dan keakraban, setelah satu bulan menunaikan ibadah puasa dan dua bulan lebih bekerja dari rumah. Acara ini diikuti oleh para sivitas akademika dan keluarga besar Fakultas Psikologi. Diantara yang hadir adalah Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Amany Lubis, MA, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Zulkifli, MA., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Prof. Dr. Ahmad Rodoni, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Masri Mansyur, Dekan Fakultas Psikologi periode 2010-2014 Jahja Umar, Ph.D, dan Dekan Fakultas Psikologi Periode 2014-2019 Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si. [caption id="attachment_3092" align="alignnone" width="644"] Rektor UIN Jakarta Prof.Dr. Amany Lubis,MA menyampaikan sambutan dan pesan dalam acara halal bi halal Fakultas Psikologi, Kamis, 28 Mei 2020.Tema halal bi halal tahun ini adalah "Meningkatkan Keberagamaan, Membangun Peradaban".[/caption] Tema halal bi halal tahun ini adalah “Meningkatkan Keberagamaan, Membangun Peradaban”. Sebagai pemberi tausiyah halal bi halal adalah Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA dosen Fakultas Psikologi yang kini mengemban amanat sebagai Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Zahrotun Nihayah Dekan Fakultas Psikologi dalam sambutanya mengatakan meskipun kita masih di tengah-tengah wabah pandemi COVID-19, kita tetap melakukan halal bi halal untuk mempererat tali silaturahim dan kebersamaan di kalangan keluarga besar Fakultas Psikologi UIN Jakarta. “Melalui acara halal bi halal ini, kita berharap dapat meningkatkan dedikasi dan semangat kerja”, ucap Nihayah seraya menyampaikan terimakasih kepada Rektor dan seluruh peserta yang telah memenuhi undangan halal bi halal virtual. Prof. Dr. Amany Lubis, MA Rektor UIN Jakarta dalam sambutannya menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan baru secara normal (new normal) setelah dua bulan lebih diterapkannya bekerja/belajar dari rumah. “Ke depan kita harus  mulai halaman baru, lembaran baru, dan kehidupan baru untuk meningkatkan kinerja di UIN Jakarta. Mari kita ambil hikmah dari wabah Corona ini.  Sejak bulan Maret, UIN Jakarta sudah melakukan pembatasan, termasuk larangan perjalanan ke luar negeri dan pada akhirnya kita terapkan bekerja/belajar dari rumah”, ucap Rektor. Ketika kebijakan new normal diterapkan, tambah Rektor, kita akan membuka kampus secara bertahap. Dimulai dari pimpinan kemudian para karyawan, dan mahasiswa. Untuk mempersiapkan new normal, diperlukan disiplin diri. Disiplin diri untuk tepat waktu, disiplin kerja, dan yang utama adalah disiplin menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat. Sementara itu Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menekankan  pentingnya peran para akademisi, peneliti, dan pegiat psikologi untuk berpartisipasi dan mengambil peran dalam new normal. Kehidupan di era new normal akan jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupan di era old normal. [caption id="attachment_3093" align="aligncenter" width="814"] Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menyampaikan pentingnya menyikapi new normal dengan sikap keberagamaan yang inklusif dan substantif.[/caption] Menurut Rektor UIN dua periode tersebut (2006-2010 dan 2010-2015), di zaman new noemal kita mesti  hidup lebih sederhana. Tidak bisa lagi mengandalkan jabatan dan kekayaan. Nyatanya orang yang kaya, begitu kena Corona, semua tiarap. Produktifitas kerja dan spiritualitas juga perlu ditingkatkan. Demikian juga kebiasan berbagi (sharing) pengalaman, sikap yang lebih inklusif dan terbuka dengan orientasi pada kemanusiaan. Menurut Komaruddin--panggilan akrabnya, di masa new normal, orientasi kehidupan kita dituntut untuk lebih aktif menabung dan menguragi gaya hidup foya-foya. Kita juga tidak usah mudah termakan perang opini antara Amerika atau China. Sebaliknya,  kita mesti  kembali kepada kekuatan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Sebab negara  Indonesia sangat kaya dengan peradaban dan keragaman budaya. “Ekspresi keberagamaan di Indonesia kaya sekali. Mari kita apresiasi jati diri bangsa kita. Mari kita mendalami keberagamaan secara substantif. Kita mengikuti perkembangan ilmu dan sains. Namun kita juga kritis dan apresiatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan sains tersebut’, ucap Komaruddin Hidayat seraya berpesan jangan sampai kehidupan beragama menjadi beban negara, tetapi sebaliknya harus menjadi kontributor bagi negara. [caption id="attachment_3094" align="aligncenter" width="826"] Keluarga besar Fakultas Psikologi mengikuti acara halal bi halal dengan antusias, meskipun dilakukan secara virtual.[/caption]