PBAK FPsi 2026 Bekali Mahasiswa dengan Interpersonal Skills
Salah satu alumnus Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Maharini Aulia, M.Psi., Psikolog, hadir sebagai narasumber dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Psikologi 2026. Pada hari pertama pelaksanaan, Jumat (28/8/2026), Maharini menyampaikan materi bertajuk “Interpersonal Skills”.
Dalam sesi talkshow yang berlangsung pada sesi keempat PBAK FPsi, Maharini menjelaskan bahwa interpersonal skills merupakan kemampuan penting yang perlu dimiliki oleh mahasiswa. Menurutnya, penerapan interpersonal skills memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi secara efektif.
“Interpersonal skills tidak hanya tentang kemampuan komunikasi yang baik, tetapi juga tentang kemampuan berinteraksi, kemampuan mendengar yang baik dan aktif, penyelesaian konflik, empati yang baik, serta membangun dan menjaga hubungan yang efektif dengan orang lain,” tuturnya.
Menurut Maharini, berbagai kemampuan tersebut menjadi pondasi penting yang perlu dimiliki mahasiswa, baik selama menjalani perkuliahan maupun sebagai bekal dalam kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan interpersonal skills bagi mahasiswa baru FPsi UIN Jakarta. Terlebih, mahasiswa Fakultas Psikologi dipersiapkan untuk memiliki kompetensi yang berkaitan dengan profesi psikologi. Kemampuan interpersonal yang baik dinilai penting bagi calon psikolog dalam membangun hubungan yang nyaman dan aman ketika berhadapan dengan klien.
“Interpersonal skills itu sesuatu yang tidak bisa kita negosiasi, harus dipelajari, harus terus dikembangkan, apalagi teman-teman akan menjadi seorang psikolog,” tambahnya.
Mengenal Tiga Gaya Komunikasi
Lebih lanjut, Maharini menjelaskan tiga jenis komunikasi yang umum digunakan dalam interaksi sehari-hari, yakni passive, aggressive, dan assertive. Menurutnya, pemahaman terhadap ketiga gaya komunikasi tersebut penting agar mahasiswa mampu mengenali pola komunikasi yang digunakan ketika berinteraksi dengan orang lain.
“Passive dapat dilihat dari body language-nya, seperti menunduk, tidak menatap mata dan lainnya. Aggressive dapat dilihat dari intonasi nada suaranya yang tinggi, meski tidak semua yang seperti itu disebut dengan aggressive karena ada pengaruh budaya. Assertive sangat tenang, santai, dan flexible,” jelasnya.
Selain interpersonal skills, Maharini turut membahas pentingnya emotional intelligence atau kecerdasan emosional bagi mahasiswa. Menurutnya, kecerdasan emosional diperlukan agar seseorang mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan lebih baik.
“Jika kita memiliki emotional intelligence yang baik, kita bisa mengatur regulasi diri kita sehingga diri kita tahu apa yang perlu dikembangkan oleh diri kita sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang dengan kecerdasan emosional yang baik tidak selalu memandang emosi sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, emosi dapat dimanfaatkan sebagai dorongan untuk berkembang dan menjadi motivasi dalam menghadapi berbagai situasi.
“Takut nih besok akan tampil di depan panggung, rasa takut itu justru memotivasi dirinya untuk mencari celah kekurangan pada dirinya,” tuturnya.
Oleh karena itu, Maharini mendorong mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa yang telah menjalani perkuliahan, untuk terus meningkatkan kecerdasan emosional. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat membantu mahasiswa lebih memahami dirinya sekaligus mengelola emosi secara lebih baik.
Maharini kemudian memaparkan lima aspek utama dalam emotional intelligence, yaitu self-awareness, self-regulation, motivation, social awareness, dan social skills. Kelima aspek tersebut dinilai penting bagi mahasiswa untuk mendukung kemampuan mengenali diri, mengelola emosi, membangun motivasi, serta berinteraksi dengan lingkungan sosial.
“Sederhananya adalah emotional intelligence itu tentang apa yang diri kita rasa, apa yang kita akan lakukan dengan apa yang dirasa, motivasi apa yang didapatkan dari rasa yang dirasakan, lalu paham tentang keadaan lingkungan sosial di sekitar hingga tumbuh empati dalam diri sendiri untuk orang lain, dan juga paham tentang bersosial,” tambahnya.

Pentingnya Digital Intelligence dalam Komunikasi
Sebagai penutup, Maharini turut membahas digital intelligence atau kecerdasan digital, khususnya dalam konteks komunikasi di ruang digital. Ia menilai bahwa kemampuan berkomunikasi secara tepat di ruang daring menjadi hal yang semakin penting di tengah intensitas penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita perlu mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi secara online. Karena salah ketik, salah mengirimkan emoji, salah waktu dalam berkomunikasi, akan membuat individu memandang diri kita dengan perspektif yang lain,” pungkasnya.

Penulis: Farhan Rahman
Editor: Hanindhia Adzkiya Muthi
Fotografer: Khazanatul Arza & Tamhidan Arya
